Tentang Isu PKI, CAF: PR Pemerintah Melawan Neo-Imperialisme dan Bahaya Laten Komunisme

SHARE:

Peneliti dari Civilization Analysis Forum (CAF), Muhammad Alauddin Azzam
BANGKITPOS.COM, Isu bangkitnya paham komunisme hingga Partai Komunis Indonesia (PKI) sedang menjadi perbincangan di Indonesia saat ini. Isu ini mulai semakin berkembang lagi pasca adanya pembubaran agenda 'asik asik aksi' di kantor Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI) di Jakarta yang disinyalir sebagai upaya untuk mengoreksi kembali sejarah Indonesia tahun 1965 dan mencabut ketetapan TAP MPRS yang menjadi aturan yang melarang keberadaan PKI dan komunisme di Indonesia. 

Di sisi lain, tersebarnya intruksi Jendral TNI Gatot Nurmantyo untuk melakukan kegiatan nonton bareng bagi setiap jajarannya di seluruh tanah air menambah kuatnya peran warga untuk mewaspadai berkembangnya bahaya laten PKI dan komunisme. Presiden, Ketua MPR hingga Mendagri memberikan sinyal tentang pentingnya menonton kembali film pengkhianatan G 30 S/PKI.


Mengenai beredarnya isu bahaya laten PKI dan komunisme, pengamat dan peneliti dari Civilization Analysis Forum (CAF) Muhammad Alauddin Azzam berkomentar bahwa PKI dan komunisme harus diwaspadai dengan sebenar-benarnya.

"Bukan hanya karena adanya TAP MPRS Nomor 25 tahun 1966 saja PKI dan komunisme itu kita larang keberadaannya di negeri ini, namun juga karena ia (PKI dan ajarannya) bertentangan secara menyeluruh dengan ajaran agama Islam yang telah tumbuh dan berkembang di tanah air. Selain itu, kita juga tidak ingin Madiun Affair kembali lagi dan ummat Islam turut menjadi korban dari keganasan PKI," ujarnya kepada BANGKIT POS Selasa, 19 September 2017.

Isu bangkitnya PKI dan komunisme juga membuat kewaspadaan masyarakat tentang bahaya laten yang akan kembali muncul. Azzam mengamati perkembangan terakhir ini mengenai kejadian senin malam di YLBHI kemarin. Isu yang sedang santer mengenai acara yang diadakan di YLBHI adalah isu berupa adanya upaya untuk mengubah sejarah tahun 1965 dan pencabutan TAP MPRS nomor 25 tahun 1966 sebagai aturan yang melarang keberadaan PKI dan komunisme di Indonesia. 

"Tahun lalu, kita juga sempat mendengar adanya pertemuan di Semarang yang bertujuan salah satunya untuk rekonsiliasi dalam kasus PKI. Sekitar Februari - April kemarin kita juga mengamati tersebarnya kaos-kaos dan atribut PKI. Terakhir, Ust. Alfian Tanjung ditangkap kembali salah satunya terkait penyampaiannya tentang PKI. Jadi, saya sepakat bila rakyat saat ini harus waspada terhadap bahaya laten PKI dan komunisme yang bisa saja menjadi tidak laten (tersembunyi)," imbuhnya.

Di sisi lain, menurut Azzam hari ini terlihat adanya penggunaan cara-cara yang dimainkan oleh rezim yang dinilai sebagai cara PKI dalam menghadang pihak-pihak yang dinilai "berbahaya". Salah satunya menurutnya adalah tragedi yang menimpa Saksi Ahli IT dari ITB, Hermansyah. Publik akan melihat tragedi yang tragis itu berhubungan langsung dengan kasus yang turut juga menyangkut Habib Rizieq Syihab. "Kita pun paham bagaimana sikap dan peran Habib Rizieq terhadap PKI dan penista agama dalam aksi-aksi 411 dan 212 bukan ? Publik pun bisa menyaksikan ketika saksi ahli, Hermansyah turut mampu menjadi saksi kunci lalu bisa membongkar kasus Habib Rizieq bukan ? Ini kan dalilnya," lanjutnya.

Masyarakat juga harus turut waspada dengan penjajahan gaya baru dan potensi berkembangnya kembali PKI dan komunisme dari negara sekitar. Bagi Azzam PR besar bagi rezim untuk melawan penjajahan gaya baru dan bahaya laten PKI dan komunisme.

"Bila kita lihat, Rusia, Cina, Korut, dan Vietnam masih mempunyai partai berideologi komunis. Jelas, potentially, paham komunisme bisa hidup lagi di negeri ini bila ada yang mengakomodir keberadaan partai dan paham mereka di Indonesia. Ini yang musti jadi kewaspadaan kita bersama. Di satu sisi, penjajahan gaya baru (neoimperialisme) sekarang sudah berjalan. Penjajahan melalui pikiran dan undang-undang sudah terjadi. Penjajahan SDA makin menjadi-jadi. Ditambah penjajahan atas tanah tempat rakyat Indonesia berpijak pun juga sudah terjadi," tegasnya.

Keberadaan PKI dan komunisme ini bisa turut berkembang bilamana rakyat semakin miskin. Karena itu, negeri ini mempunyai PR besar sesungguhnya. Melawan neoimperialisme dan menghadapi bahaya laten PKI/komunisme. "Bukan malah me-"gebuk" ormas-ormas Islam !" pungkasnya. [bp]

COMMENTS

Nama

Berita,1041,Budaya,39,Daerah,58,Ekonomi,305,Hukum,205,Internasional,86,Kesehatan,18,Nasional,721,Opini,335,Pakar,276,Pembaca,5,Pendidikan,35,Politik,289,Redaksi,9,Redaktur,1,Sosial,79,Teknologi,29,Tokoh,74,Video,18,
ltr
item
Bangkit Pos: Tentang Isu PKI, CAF: PR Pemerintah Melawan Neo-Imperialisme dan Bahaya Laten Komunisme
Tentang Isu PKI, CAF: PR Pemerintah Melawan Neo-Imperialisme dan Bahaya Laten Komunisme
https://2.bp.blogspot.com/--IgV-hMJ_4s/WcFw8NAWHBI/AAAAAAAAB68/xiUXZBxRwB8vL8VTvo2QcFvSgIL7k8wQgCLcBGAs/s640/Azzam%2B1.jpg
https://2.bp.blogspot.com/--IgV-hMJ_4s/WcFw8NAWHBI/AAAAAAAAB68/xiUXZBxRwB8vL8VTvo2QcFvSgIL7k8wQgCLcBGAs/s72-c/Azzam%2B1.jpg
Bangkit Pos
http://www.bangkitpos.com/2017/09/tentang-isu-pki-caf-pr-pemerintah.html
http://www.bangkitpos.com/
http://www.bangkitpos.com/
http://www.bangkitpos.com/2017/09/tentang-isu-pki-caf-pr-pemerintah.html
true
7145129698342027077
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS CONTENT IS PREMIUM Please share to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy